Jumat, 05 Maret 2010

“Kecerdasan Hilmiyah” dan Jahiliyah

“Kecerdasan Hilmiyah” dan Jahiliyah
Oleh: Ali M. Hassan Palawa


Negeri kepulauan nan elok-permai disebut-sebut sebagai gugusan zamrud khatulistiwa ini pada awalnya dikenal sebagai negari yang aman dan damai. Begitupun, penduduknya dikenal ramah, santun dan toleran serta berlapang dada. Dulu, orang luar mungkin iri dan menyesal tidak dilahirkan di negari ini, dan kita merasa tersanjung dengan sebutan itu sekaligus bangga dilahirkan di sini.
Akan tetapi, belakangan negeri ini berubah menjadi negeri yang mengerikan dengan bom-bom yang meledak silih-berganti diberbagai tempat. Demikian pula, gelar yang disandang penduduknya tersebut hilang disapu, setidaknya, dicederai oleh serentetan konflik etnis yang mengenaskan disejumlah wilayah. Saat ini, orang luar tidak perlu lagi iri dan malah merasa beruntung tidak dilahirkan di sini. Dan kita menjadi malu sendiri melihat kondisi bangsa ini, meskipun belum/tidak menyesal dilahirkan di bumi pertiwi.
Kita bangga dan ternina-bobokan dengan keindahan dan kekayaan alam, tetapi ketika kita sadar, ternyata kita mendapatkan diri kira miskin dan malah termasuk negeri peringkat ketujuh terkorup di dunia. Kita terlena dengan keramahan-tamahan dan tolerensi penduduk negeri ini, padahal kita belum pernah diujui. Ketika diuji, ternyata, dibalik nilai-nilai positif dan baik itu dalam diri bangsa ini tersimpan potensi negatif dan buruk: kejam, sadis dan bringasan. Potensi yang disebut terakhir ini dapat saja aktus lagi dimana, kapan, dan oleh siapa saja.
Potensi-potensi negatif dan buruk itu harus diwaspadai karena sebentar lagi negeri ini akan menyelenggaran perhelatan akbar, pesta demokrasi: Pemilihan Umum (Pemilu) yang diawali dengan kampanye oleh kontestan partai-partai politik. Kewaspadaan itu menjadi semakin penting karena menurut analisa BIN, pemilu 2004 berporensi gagal. Potensi kegalalan pemilu, menurut kepala BIN, AM Hendoropriyono, ada dua faktor. Pertama, faktor internal: kesiapan KPU sebagai penyelenggaran pemilu; dan kedua, faktor eksternal: terkait dengan situasi keamanan dan ketertiban.
Sedikit menggembirakan bahwa diantara kedua faktor ini, menurut kesimpulan BIN, faktor pertama lebih dominan dalam menentukan gagal atau tidaknya pemilu. Sementara faktor kedua, menurut Kepala BIN, kemanan dan ketertiban menjelang pemilu tidak akan sampai menggangu dan menggagalkan pemilu (Riau Pos. 4 Maret). Disebut sedikit menggembiran, karena kalau pemilu gagal karena faktor pertama, ongkosnya hanya lebih bersifat finansial, tenaga dan pikiran, khususnya dari penyelenggara pemilu.
Namun, sekali lagi, tetap saja bangsa ini harus tetap waspada. Karena kalau ternyata kegagalan pemilu disebabkan justru oleh faktor kedua, maka ongkos dan resiko yang akan ditangung oleh bangsa ini sunguh luar besar dan berat. Kegembiraan yang tersisa sedikit tadi akan habis, dan yang tinggal hanyalah kepiluan dan ratapan berkepanjangan. Dapat dibanyangkan, ketika keamanan dan ketertiban tidak terjaga, sangat memungkinakan akan terjadi konflik horisontal antara massa-massa pendukung-pendukung (fanatik) partai. Akibatnya, kerusahan terjadi dan boleh jadi ongkos pemilu akan dibayar oleh darah-darah, bahkan nyawa dari anak-anak bangsa. Nauzu billah.
Agar pemilu kali ini berhasil, apa lagi tidak berdarah-darah, kecerdasan intelektual (pengetahuan tentang politik, demokrasi, pemilu, dll.) yang dimiliki oleh masyarakat tidak memadai dan menjamin. Justru yang lebih menjamin adalah kecerdasan emosional. Bagaimana masyarakat memaknai perbedaan pendapat dengan jiwa toleran dan berlapang dada (hanif al-samhah). Karena orang yang memiliki kecerdasan intelektual, tinimbang masyarakat yang mempunyai kecerdasan emosional, justru yang cenderung berpeluang bersifat jahiliyah.
Jahiliyah, akar kata dari “jhl” selama ini senantiasa dikontradiktifkan (sebagai lawan kata) dengan kata “Ilm”. Padahal, dalam kebudayaan dan kesusatraan pra-Islam ditemukan kata jhl yang, menurut penelitian Goldziher, arti pokoknya bukan lawan kata ilm (kepintaran), melainkan lawan kata dari hilm. Kata “hilm” dalam bahasa Arab artinya kelamah-lembutan; ketenangan (sakinah); sifat menahan diri dan taqwa, sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an: Ketika orang kafir membangkitkan dalam hatinya kesombongan --kesombongan jahiliyah-- maka Allah menurunkan ketenangan atas rasul dan mereka yang beriman, dan mewajibkan mereka menahan diri. Dan mereka memang berhak dan patut memilikinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-Fath [48]: 26)
Jadi, orang-orang kafir disebut jahiliah bukan kerena mereka tidak berilmu pengetahuan, apa lagi bodoh (tidak pintar). Malah orang-orang Arab pra-Islam sangat masyhur dengan kecerdasan intelektualnya, misalanya ditandai dengan kekuatan hafalannya. Akan tetapi, orang-orang pra-Islam disebut jahiliyah lebih karena mereka tidak dapat menahan diri dan sikap berutal mereka.
Sikap kejam dan tanpa prikemanusia ini dengan jelas tercermin, misalnya, pada diri Khalid bin Walid, ketika ia diutus oleh Rasul untuk menyampaikan misi keislaman dan berdakwah mengajak orang-orang di daerah sekitar Mekkah untuk masuk Islam. Sebelumnya Rasul memerintahkan Khalid bin Walid melaksanakan tugas tersebut secara damai serta tidak melakukan kekerasan dan pertumpahan darah. Tetapi apa yang terjadi, setelah sampai ditujuan, Khalid berseru: ”Letakkan senjata, karena setiap orang telah memuluk Islam.” Begitu orang-orang di sekitar Mekkah meletakkan senjata, Khalid memerintahkan pasukannya, “ikat tangan mereka ke belakang dan pancung leher meraka.” Ketika berita ini sampai di telinga Rasul, ia menyuruh Ali bin Abi Thalib ke sana dan menyelidiki kejadian tersebut serta “memerintahkan agar menghapus semua praktek-praktek jahiliah.”
Begitu juga, kejadian serupa tampak nyata lima puluh tiga tahun sepeninggalan Rasul, ketika dinasti Umayyah melakukan belas dendam terhadap orang Anshar yang mendukung khilafah Abdullah bin Zubair, sampai tega membombardir kota Madina, memperkosa para gadisnya, membunuh sekitar 80 orang sahabat Rasul dan membunuh sekitar sepuluh ribu orang Anshar dan keturunnanya. Jelas bahwa sikap ini merupakan aspirasi jahiliyah.
Setelah itu, untuk mengelimasi kebobrokan pada masa dinasti Umayyah, dibuatlah konsep baru tentatng jahiliyah dengan menambah kata “zaman.” Sehingga kesannya, zaman jahiliyah telah berlalu dengan datangnya Islam. Padahal, jahiliyah tidak terkait dengan “zaman” yang merujuk pra-Islam atau diidentikkan dan didefinisikan dengan masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad.
Namun, jahiliyah lebih merupakan sikap kejiwaan yang tetap ada sampai kedatangan Islam, bakan hingga saat ini, sampai-sampai kita mengenal istilah “Jahiliah Modern” lewat sebuah judul buku, misalnya. Sebagai orang yang hidup zaman modern yang akan melaksanakan pemilu, nota bene piranti demokrasi yang diklaim milik orang modern, kiranya kita memiliki kecerdasan hilmiyah, bukan kecerdasan jahiliyah.
Ma taufiq wa al-hidayah illah billah.




















Ali M. Hassan Palawa, Tenaga Pengajar IAIN SUSQA dan Ketua Forum Kajian Khazanah Melayu-Riau “Pararusydiah”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar